Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu tentang perpecahan ummat, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda :
وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ فِي رِوَايَةٍ : مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي
“Sesunggunya agama (ummat) ini akan terpecah menjadi 73 (kelompok), 72 di (ancam masuk ke) dalam Neraka dan satu yang didalam Surga, dia adalah Al-Jama’ah”.
(HR. Ahmad dan Abu Daud dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan juga mirip dengannya dari hadits Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu)


عن العرباض بن سارية قال: صلى بنا رسول الله ذات يوم ثم أقبل علينا فوعظنا موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب، فقال قائل: يا رسول الله كأن هذه موعظة مودع، فماذا تعهد إلينا؟ فقال: أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا؛ فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
“Dari sahabat ‘Irbadh bin As Sariyyah rodhiallahu’anhu ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم shalat berjamaah bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu beliau memberi kami nasehat dengan nasehat yang sangat mengesan, sehingga air mata berlinang, dan hati tergetar. Kemudian ada seorang sahabat yang berkata: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah, maka apakah yang akan engkau wasiatkan (pesankan) kepada kami? Beliau menjawab: Aku berpesan kepada kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah, dan senantiasa setia mendengar dan taat ( pada pemimpin/penguasa , walaupun ia adalah seorang budak ethiopia, karena barang siapa yang berumur panjang setelah aku wafat, niscaya ia akan menemui banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ Ar rasyidin yang telah mendapat petunjuk lagi bijak. Berpegang eratlah kalian dengannya, dan gigitlah dengan geraham kalian. Jauhilah oleh kalian urusan-urusan yang diada-adakan, karena setiap urusan yang diada-adakan ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat“. (Riwayat Ahmad 4/126, Abu Dawud, 4/200, hadits no: 4607, At Tirmizy 5/44, hadits no: 2676, Ibnu Majah 1/15, hadits no:42, Al Hakim 1/37, hadits no: 4, dll)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا (٣)
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.”
(Al-Maaidah: 3)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".
(QS. At-tahrim [66]:8)

Dalam hadits Abu Hurairah, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِيْ
“Saya tinggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat di belakang keduanya, (yaitu) kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. Malik dan Al-Hakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Al-Misykah )


100%! Ritual Bid'ah Bukan Bagian dari Agama



Bismillah - mendapatkan rahmat dari Allah adalah keinginan setiap hamba yang bertaqwa,karena ia beriman bahwasanya sebuah rahmat dari Allah adalah jalan yang menuntun mereka ke Surga,masih berimankah kita terhadap adanya Surga?

Islam yang telah diturunkan oleh Allah adalah agama yang sempurna,dan untuk melihat serta merasakan hal itu,sebagai hamba yang berusaha istiqamah,kita harus senantiasa takut dan tidak berputus asa dalam bertaqwa.Tidak terkecuali harus kritis terhadap berbagai ritual bid'ah dalam agama yang justru merusak dan menghina Islam.

Seandainya pun ritual bid'ah tidak diharamkan,apakah ia diperintahkan? Buat apa melakukan ritual bid'ah yang bahkan tidak pernah Rasululloh contohkan? Adakah manusia yang paling taqwa selain Beliau? Dan bukankah justru ada ancaman bagi pelaku 'bidah'?

Karena seperti yang kita tahu saudaraku,berbagai ritual bid'ah dalam Islam hanya akan menyibukkan kita dari mengingat Allah bahkan hanya akan mengotori hati kita.
Jika sebuah ritual bid'ah adalah bagian dari agama,tentu ritual tersebut telah dicontohkan oleh Rasululloh sejak dahulu kala,karena bukankah kita juga tahu saudaraku,Beliaulah yang mengerti benar akan Islam dan tidak ada istilah modernisasi dalam Islam bukan?

Islam yang benar adalah seperti apa Islam pada zaman Rasululloh,tidak ada istilah 'Islam yang harus mengikuti perkembangan zaman','Islam modern','Islam pembela emansipasi wanita','Islam ini Islam itu' dan lain sebagainya.Tidak ada.
Dan salah satu faktor utama dari semakin banyaknya perbedaan pemahaman mengenai Islam , adalah karena ikhtilaf pendapat tentang nilai sebuah ritual saat kita harus melihat dari kacamata bid'ah.

Ini penting,dan harus dipahami bahwa memang setiap ritual bid'ah yang menyangkut dengan ajaran Islam bukanlah bagian dari agama Islam,dan jika kita sudah memahami hal tersebut,buat apa kita mengerjakan sebuah ritual bid'ah?
Hal ini akan menjadi renungan bagi seorang hamba yang senantiasa rindu akan hidayah Rabb-nya,dan kita,itupun jika kita berharap agar senantiasa termasuk orang-orang yang berakal dan bukan orang-orang yang melampaui batas.

Berbagai praktek ritual bid'ah bahkan bid'ah-bid'ah dalam hukum Islam,hanya akan menjadikan Islam ini sebagai bahan olok-olokan.

Kita tahu bahkan kita melihat tidak sedikit dari mereka yang mengatasnamakan Islam demi untuk sebuah kepentingan pribadi,Islam untuk memperebutkan kekuasaan,Islam untuk sebuah kemerdekaan dan lain sebagainya.

Diluar sana ada yang mengatasnamakan sebagai 'partai salafy',dan Allah hanya akan mengadzab mereka,Islam mereka permainkan tapi mereka lupa bahwa sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana.
Mereka juga yang tidak mengingkari menjadikan Islam ini untuk sebuah popularitas dan tontonan,doktrin kesyirikan dengan berjubah agama,bukankah ini sesuatu hal yang berpotensi untuk menghinakan Islam?

Islam adalah agama untuk semua umat manusia,yang mana Islam adalah agama yang mengajarkan Tauhid,zuhud,kasih sayang terhadap sesama,agama yang mudah,agama yang tidak membedakan mereka yang kaya,miskin,pintar,bodoh dan lain sebagainya.

Dunia hanyalah sarana mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat,dan dari nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita,pantaskah kita menjadikan hidup kita sia-sia?
Mereka yang mengolok-olok Islam dengan berbagai cara bahkan berjubah agama sekalipun,dalam hidupnya tidak akan menemukan ketenangan,sibuk dalam merekayasa taqwa,mereka juga hanya akan menjauhkan diri dari Rabb-nya dan hati mereka justru akan menjadi semakin keras.

Na'udzubillah.
[ Baca lebih lanjut.. ]

Tukang Adu Domba (Mengadu Domba - Penyakit Lisan),Apa itu Namimah?

Tukang Adu Domba (Mengadu Domba - Penyakit Lisan),Apa itu Namimah?

Bismillah - benar Surga itu adalah rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak dibenarkan jika kita hamba yang hina dina ini,hamba yang berlumur dosa dapat mengetahui bahkan menentukan siapa masuk surga dan siapa pula yang kelak masuk neraka.

Akan tetapi,apa guna sebuah petunjuk apabila jika sudah kita ketahui dan yakini kebenaran akan petunjuk tentang itu lalu kita tetap saja bebal dan tidak mau tahu. Inilah pentingnya sebuah ilmu.

Mengadu domba (An-Namimah)

      Namimah adalah menyampaikan perkataan suatu kaum kepada kaum yang lain untuk menimbulkan kerusakan di antara mereka. Sesungguhnya allah telah mencela orang yang memiliki sifat ini, Dan melarang mendengarkan perkataan , Dia berfirman:
وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ () هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ () مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ
“dan jangan engkau ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.”(Al-Qalam:10-12)

       Firman-Nya(yang kian kemari menghambur fitnah) maksudnya dia mengadu domba di antara manusia,menghasut dan memfitnah di antara mereka,sebagaimana di sebutkan di dalam tafsir  Ibnu katsir.
Namimah termasuk dosa besar,dalam Ash-shahihain dari ibnu abbas di sebutkan:

        “Rasulullah melewati dua kuburan dan kedua penghuninya sedang di siksa,Dan keduanya tidaklah di siksa karena perkaranya yang besar – sesungguhnya itu adalah adzab yang benar-Adapun salah satunya berjalan di antara manusia dengan mengadu domba,Adapun yang lain,ia tidaklah menjaga dirinya dari air kencing
     Sabda beliau: 
"keduanya tidaklah di siksa karena perkara yang besar maksudnya namimah dan tidak membersihkan diri dari najis kencing adalah pebuatan yang kecil (sepele),ringan atau gampang menjauhi keduanya akan tetapi adzabnya sangat keras"

Al_iman Al_bukhari berkata (10/6056):
Abu Nu’aim telah berkata kepada kami:
Sufyan telah berkata kepada kami dari manshur,dari Ibrahim, dari hamam, dia berkata:
kami bersama Hudzaifah,maka di katakan kepadanya bahwa sesungguhnya seseorang menyandarkan hadits itu sampai ke utsman maka  Hudzaifah berkata: 
saya mendengar nabi Bersabda:

         “Qattat tidak akan masuk surga”
            Sabda beliau “Qattat” ditafsirkan oleh hadits riwayat muslim
          “seseorang mengadu domba tidak akan masuk surga “
    
Di sebutkan bahwa Qattat adalah orang yang mendengarkan sesuatu secara sembunyi- sembunyi  (mencuri dengar) kemudian menyampaikan apa yang di dengarnya.

      Para pengadu domba di kabarkan tidak masuk surga demikian pula dalil-dalil tentang ancaman seperti ini menjadi syubhat (keracunan) bagi orang-orang khawarij yang mengafirkan pelaku maksiat walaupun dia seorang yang mengesahkan allah,

Syubhat ini dijawab dengan firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ
“Sesungguhnya allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu ) dengan dia dan dia mengampuni dosa selain syirik itu bagi siapa yang dia kehendaki”
 (An-Nisa:116)

Dia menjadikan doa-dosa itu di bawah kehendak-Nya jika dia menghendaki maka dia mengampuninya dan jika dia menghendaki maka dia menyiksa sesuai kadar dosanya, kemudian tempat kembalinya adalah surga,kecuali syirik karena pelaku syirik akan kekal di neraka

     Al-iman Al-bukhari berkata (1/64)  : 
Abdul yaman telah mengabarkan kepada kami dia berkata:syu’aib telah mengabarkan kepada kami dari Az-zuhri,dia berkata:
Abu idris ’A’idzullah bin Abdullah telah mengabarkan kepada saya bahwa ‘Ubadah bin Ash-shamit dia mengikuti perang badr dan merupakan salah seorang naqib (pemimpin kaum) pada malam ‘Aqabah –bahwa Rasullah berkata di sekitar beliau ada sekelompok sahabat

    ‘berbai’atlah kepadaku bahwa janganlah kalian menyekutukan allah dengan sesuatupun,janganlah mencuri,jangan berzina,janganlah membunuh anak-anak kalian,janganlah membuat dusta yang kalian ada-adakan antara tangan-tangan dan kaki-kaki kalian dan janganlah kalian durhaka dalam hal kebaikan Barang siapa di antara kalian yang memenuhi bai’atnya maka pahalanya di sisi allah  dan barang siapa yang melakukan salah satu hal itu lalu dia di siksa di dunia maka hal itu menjadi kaffarah (penghapus dosa) baginya dan barang siapa yang melakukan sesuatu yang terlarang itu kemudian allah menutupinya maka perkaranya dikembalikan kepada allah jika Dia menghendaki maka dia memaafkan dan jika dia menghendaki maka dia menyiksa maka kami berbai’at kepada beliau di atas demikian itu,”

Nabi mengabarkan bahwa dosa-dosa itu berada di bawah kehendak allah ,jika dia berkehendak maka dia menyiksanya ,dan jika dia berkehendak maka dia mengampuninya.

Dalil –dalil tentang ancaman yang mengandung peniadaan masuk surga dari seorang yang bertauhid jika dia melakukan dosa besar ,mengandung kemungkinan bahwa di dalamnya ada kalimat yang dihilangkan ,dan kalimat lengkapnya :jika allah membalasnya ;atau bahwa ia tidak langsung masuk surga ,dia disiksa dahulu sesuai kadar dosanya kecuali jika allah mengampuninya ,kemudian tempat kembalinya adalah surga ,atau bahwasanya jika dia menganggap halal perbuatan itu , berarti dia telah mendustakan dalil ,baik dia melakukan atau tidak.

Disebutkan dari sebagian ulama salaf bahwa dalil –dalil tentang ancaman ditetapkan sebagaimana adanya dan tidak dipertentangkan maknanya ,karena hal itu akan lebih mengena dalam memberi peringatan ,(hukum suatu perkara dalam )agama tidak hanya diambil dari suatu dalil ,namun diambil dari semua sisi dalilnya ,allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
‘’hai orang –orang yang beriman ,masuklah kalian ke dalam islam secara keseleruhannya ,’’
(al –baqarah :208)

Tatkala orang –orang khawarij hanya memegangi dalil –dalil yang memberikan ancaman dan meninggalkan dalil –dalil yang mengandung harapan ,mereka sesat dan menyesatkan ,dan mereka disepakati oleh mu’tazilah dalam menghukumi bahwa pelaku dosa besar di akhirat nanti  akan kekal di neraka namun mereka berselisih dalam penamannya orang-orang khawarij berkata:”kami menamakan kafir”sedangkann orang-orang Mu’tazilah berkata:”kami menamakan fasik”

Bantahan terhadap orang-orang Mu’tazilah:
Allah berfirman
dia-lah yang menciptakan kalian,maka di antara kalian ada yang kafir dan ada pula yang beriman”(At-taghabun:2)

Allah membagi manusia menjadi  dua: kafir atau mukmin allah tidaklah membagi mereka menjadi tiga bagian kita berlindung kepada Allah dari kehinaan.

Akan tetapi ahlussunnah adalah oarng-orang yang di sucikan oleh allah dengan berfirman:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ …
“dan demikian (pula) kami telah menjadikan kalian (umat islam) sebagai umat yang adil dan pilihan,agar kalian menjadi saksi atas (perbuata) manusia dan agar  Rasul (Muhammad)menjadi saksi atas perbuatan kalian”
(Al-Baqarah:143)
Al –wasath maknanya yang terpilih ,mereka mengompromikan dalil –dalil ,mereka khawatir bahwa orang yang berbuat kejelekan akan disiksa ,dan mereka mengharapkan,balasan surga bagi pelaku kebaikan.

Untuk mendapatkan tambahan penjelasan dalam masalah ini ,silakan merujuk syarah al -‘aqidah ath thahawiyyah (hal ,316 dan yang setelahnya )
Masalah namimah adalah masalah yang sangat berbahaya ,namimah dapat merusak hubungan antara dua kawan dan hubungan persaudaraan yang sangat kuat.

Janganlah engkau memperluas namimah di antara dua kawan ,yang karenanya dua sahabat           akan saling membenci 

Namimah mendatangkan  kerusakan dan pemusuhan ,padahal sugguh allah telah melarang melakukan kerusakan ,Allah berfirman:
وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
“dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan ,”
(al –a’raf :74)

Orang yang membuat kerusakan tidak dicintai oleh allah  ,Allah berfirman :
وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di (muka)bumi ,sesungguhnya allah tidak menyukai orang –orang yang berbuat kerusakan
(al –qashash:77)

Bahkan allah telah memerintahkan melakukan perbaikan Allah berfirman :
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ
“Maka bertaqwalah kapada allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian.”
(Al-anfal:1)
Dan allah berfirman:
وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا
dan jika ada dua golongan dari orang –orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya “
(al –hujurat:9)
dan Allah berfirman :
لَّا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
“tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan –bisikan mereka ,kecuali bisikan –bisikan dari orang yang menyuruh (manusia)memberi sedekah ,atau berbuat ma’ruf,atau mengadakan perdamaian di antara manusia ,dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan allah ,maka kelak kami memberinya pahala yang besar.”
(an –nisa :114)

Nabi bersabda sebagaimana disebutkan di dalam sunan abi dawud dari hadits abu darda :

   “Maukah saya kabarkan? para sahabat menjawab:tentu,wahai rasulullah beliau berkata: memperngaruhi keadaan manusia dan merusak keadaan manusia adalah Al-haliqah”
 Hadits tersebut shahih sebagaimana di dalam ash-shahihul Musnad (2/149)

       Al-haliqah adalah pekerti yang sifatnya mencukur,maksudnya membinasakan dan mencabut agama hingga akarnya, sebagaimana pisau cukur memotong rambut sampai akarnya.

Ada yang mengakatakan Al-haliqah adalah memutuskan hubungan kekeluargaan dan berbuat kedlaziman,sebagaimana di sebutkan di dalam an-Nihayah (1/328)
Allah telah memberi anugerah kepada hamba-hamba-Nya yaitu dua menyatukan hati mereka Allah berfirman:
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“dan inganlah nikmat allah kepada kalian ketika kalian dahulu (di masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka allah mempersatikan hati kalian, lalu menjadi kalian karena nikmat allah orang-orang yang bersaudara.dan kalian telah berada di tepi jurang neraka,lalu allah menyelamatkan kalian darinya.demikianlah allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian,agar kalian mendapat petunjuk.”
(Ali imran:103)  

( Diambil dari Nasehat Untuk Kaum Musliman, Pustaka Ar Rayyan ) Sumber: http://salafy.or.id/blog/2014/01/14/penyakit-penyakit-lisan-3/
[ Baca lebih lanjut.. ]

Mereka Mengeluarkan Kita Dari Islam!

Sungguh ironis namun jelas dan sangat terang seterang cahaya matahari di siang hari,adalah sebuah gaya hidup yang sduah kita anggap sebagai hal biasa namun sesungguhnya merupakan perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Mereka Mengeluarkan Kita Dari Islam - kita bisa lihat makar mereka,mereka tak dapat memurtadkan setiap pribadi muslim namun kita tidak pernah sadari bahwa sesungguhnya mereka telah mengeluarkan kita dari Islam.
Saudaraku,sebuah gaya hidup yang kita anggap sebagai bentuk peradaban modern ternyata merupakan bentuk maksiat kepada Allah tanpa kita sadari.
Inilah perlunya sebuah manhaj dalam beragama,tanpa pondasi yang kuat kita tahu aqidah seseorang bisa saja rusak hanya dari beberapa hal yang sudah kita jadikan sebuah rutinitas hidup.

Kembali,sebuah kalimat 'gaya hidup islami' kini sudah menjadi hal yang tabu bahkan malu untuk diakui sebagian kaum muslimin,namun justru membela sebuah gaya hidup kaum kuffar.
Perlahan namun pasti,seorang muslim bisa saja mengikuti cara hidup kaum kuffar dan perlahan namun pasti tidak sedikit kaum muslimin yang mulai 'membenci cara hidup secara islami'.

Dari Abu Sa’îd Al-Khudry ,Rasululloh telah bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى! قَالَ: فَمَنْ )

“Sungguh kalian betul-betul akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta hingga, andaikata mereka masuk ke lubang dhab[1], niscaya kalian akan mengikutinya,” Kami berkata, “Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab, “(Ya), siapa lagi (kalau bukan mereka)?”
(H.R. Al-Bukhâry dan Muslim)

Saudaraku,ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala di akhir zaman ini akan menunjukkan siapa mereka orang-orang munafik dari kalangan umat Islam.
Mari kita bermohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar senantiasa dijadikan sebagai hamba yang takut dan taqwa kepadaNya,serta dijadikan termasuk golongan orang-orang yang beruntung.
[ Baca lebih lanjut.. ]

Pantaskah Kalimat 'Salafi Wahabi' Sesat Akan Hancur dari Dalam dan Terpecah Belah?


Salah satu tujuan kami mempublikasikan artikel ini adalah mengajak kepada para pembaca,mari sejenak kita luangkan waktu untuk memahami juga mengenal apa itu arti makna 'salafi'.

Mereka yang menyatakan diri telah tobat dari manhaj salaf,namun entah tobat dari manhaj salafy yang mana.

Ilustrasi:

A:Tobat dari salafi wahabi!
B:Salafy yang mana akhi?
A:Lho? emang salafy ada banyak ya akhi?
B:Bukankah memang sudah jelas Islam ini akan terbagi menjadi 73 golongan to?
A:Itu khan Islam yang akan terbagi menjadi 73 golongan? bukankah kita sedang membicarakan tentang salafy?
B:Ya,tapi bukankah Salafy asli hakekatnya adalah Islam itu sendiri.
A:Ngawur kamu!berarti nabi Adam salafy juga?
B:Memang apa sebenarnya makna dasar 'salafy' itu? bukankah mengikuti pendahulu? kita ini umat nabi Muhammad to,siapa lagi yang jadi panutan kalo bukan Beliau,syahadatnya saja nabi Muhammad bukan nabi yang lain,ya to?
A:Memang benar salafy wahabi itu dari dulu selalu merasa paling benar.
B:Sekarang saya balik bertanya akhi,jika kita boleh taklid dalam satu madzhab (maliki,syafi'i,hambali,hanafi) lalu madzhab apa yang dibawakan beliau para imam yang empat? Lalu apakah Beliau para imam juga menginginkan kita taklid kepada mereka?
A:???...Tapi faktanya ulama-ulama atau ustadz-ustadz yang mengatasnamakan salafy memang terpecah belah.
B:Sebenarny tidak ada istilah 'salafy/ahlussunnah' yang terpecah belah,karena barang siapa yang sudah menyelisihi ajaran Islam yang murni meskipun yang mereka selisihi adalah hal kecil yang sudah jelas-jelas dilarang terkhusus yang dilarang menurut imam yang empat maka mereka bukanlah ahlussunnah entah mereka seorang ustadz atau seorang ulama bahkan syeikh sekalipun apalagi ulama-ulama yang membenci sunnah dan justru giat menghidupkan bid'ah.
Namanya juga ahlussunnah,yakni mencoba kaffah dalam beragama dengan pemahaman yang benar.
Ini berarti seorang muslim yang lepas dari kaidah Islam (menyangkut aqidah dan akhlak),maka bukanlah ahlussunnah,dan hal ini BUKAN berindikasi bahwa ahlusunnah dapat terpecah belah ataupun selalu merasa paling benar.

Bukankah akan timbul pertanyaan dalam benak kita,termasuk ahlussunnah/salafiyyun kah mereka yang ujub,sombong,angkuh,pengadu domba,mencaci maki ulama (bukan tahdzir),berkata kotor?

Jadi,seandainya ada saudara kita entah itu remaja maupun mereka-mereka yang cukup usia (mbah mbah sekalipun) dan mencoba mengadu domba menyoal 'perpecahan salafy' dengan mengkait-kaitkannya dengan tujuan adu domba,maka jangan telan mentah-mentah berita itu karena kita tidak tahu siapa mereka yang sebenarnya (para pengadu domba sesama muslim),bahkan kita pun tidak tahu pasti apakah aqidah mereka benar-benar dari golongan muslim atau bukan.

Seorang muslim adalah mencintai sesama muslim kecuali memang telah melakukan kekufuran yang nyata.
Seperti; waspada kepada seseorang yang mengaku muslim namun mengajak kita meninggalkan shalat,melakukan berbagai praktek bid'ah,mengajak pada kekufuran dan lain sebagainya.

Sesungguhnya ia (baca:pengadu domba) telah bermain dengan hal yang sangat sakral yang mana seharusnya hal ini memerlukan adanya sebuah bukti kuat yang dapat dipertanggungjawabkan.


Kita belajar mencari tahu mana dan siapa mereka ahlul bid'ah,mengenal firqah agar kita selamat dan dapat menghindarinya.

Karena ini penting akhi,hal ini sangat berkaitan erat dengan pembangunan akhlaq pribadi seorang muslim yang juga menyangkut dalam bagaimana kita bisa beraqidah dengan benar.
Makna perpecahan umat ini adalah sebuah rahmat karena dengan begitu seorang hamba akan senantiasa belajar untuk menempuh Islam yang benar dengan sunguh-sungguh.

Jangan termakan syubhat seperti: 'Wahabi Salafi Akan Hancur Dari Dalam Sendiri','akhirnya salafy terpecah belah,SESAMA SALAFY WAHABI SALING HANTAM & BERPECAH BELAH dan lain sebagainya.

Bersyukurlah saat hati kita masih bisa menerima kebaikan dari sebuah dakwah,dan bukan belajar yang bertujuan untuk mencari kelemahan-kelemahan seseorang sebagai media mengadu domba.

Perbedaan itu wajar bahkan merupakan rahmat jika tidak ada pertentangan didalamnya.Artinya,perbedaan itu bisa diterima selama khilafiyah baik berupa furu'(cabang) ataupun fiqh yang diselisihkan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan sunnah menurut pemahaman yang benar.

Namun perbedaan yang justru berpotensi membuat perpecahan karena tidak disampaikan dengan etika dakwah yang sesuai syar'i tapi justru malah mengarah pada mengadu domba sesama muslim maka ini yang perlu kita waspadai.

Tidak sedikit seseorang yang menunjukkan kebodohannya justru dari lisan,asumsi yang ngawur juga taklid dengan keyakinan dan pendapatnya sendiri.Semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat ujub dan penyakit hati lainnya khususnya sifat-sifat buruk yang tersebut diatas.

'Menggelikan memang mereka-mereka yang menulis melalui blog-blog anti salafi yang mana mengaku telah tobat dari manhaj salaf karena alasan-alasan diantaranya adalah seperti; justru memilki akhlaq buruk setelah mengenal sunnah,memahami salafy adalah khawarij,memahami semua fenomena yang tidak dicontohkan nabi adalah bid'ah,dan merasa tidak lebih baik jika dibandingkan dengan pemahaman yang sebelumnya mereka yakini sebelum mengenal manhaj salaf.'
PERLU KITA KETAHUI ISLAM INI DITURUNKAN UNTUK MENEGAKKAN TAUHID / AQIDAH,DAN AQIDAH / TAUHID YANG BENAR AKAN MENGHASILKAN BUAH YANG SANGAT MANIS YAITU AKHLAQ YANG MULIA!

Mereka tidak akan berjalan dalam manhaj ISLAM yang benar (baca:ahlussunnah wal jama'ah) sampai telah berlaku padanya beriman dengan aqidah yang benar dan akhlaq yang mulia.
Sampai disini haruskah penulis menjabarkan bagaimana akhlaq yang mulia itu?

Disebut sebuah BID'AH seperti yang ISLAM sampaikan,BUKAN karena sesuatu itu belum ada pada zaman Rasululloh maupun tidak pernah dilakukan oleh Rasululloh.Sekali kali bukan.

Disebut sebuah bid'ah jika melakukan sesuatu yang baru atau suatu ritual yang bertujuan mendapatkan pahala atau mendapatkan keberkahan,dengan jalan yang tidak pernah DICONTOHKAN oleh Rasululloh dan para sahabat serta generasi salafush shaleh.

Dari pernyataan diatas apakah lantas saudara masih menyimpulkan 'microphone' untuk mengumandangkan adzan atau sekedar digunakan untuk kepentingan dakwah adalah sebuah bid'ah?
Bukankah itu juga dalam rangka mengaharapkan pahala?

Rasululloh memang TIDAK PERNAH mencontohkan untuk mengumandangkan adzan menggunakan microphone,pergi haji dengan mengendarai pesawat,shalat jumat dengan mengendarai sepeda motor,kotak infaq yang memiliki roda,dan fenomena lain sejenisnya.
Namun bukan berarti itu sebuah bid'ah karena jelas itu hanya sebuah pendukung yang mana memang juga belum ada pada zaman Rasululloh.

SETIAP bid'ah menurut syari'at (seperti yang ISLAM sampaikan) adalah perbuatan tercela dan meskipun terlihat ada kebaikan disana pada akhirnya hanyalah menggiring pada kesesatan,TAPI perlu diperhatikan juga akhi bahwa setiap perbuatan tercela belum tentu sebuah bid'ah.

Ya akhi,jangan meremehkan sebuah bid'ah yang kecil,bid'ah skala kecil mungkin ada sebagian kita yang masih mengabaikannya,namun saat bid'ah sudah menjadi besar dan kesesatan merajalela,perbedaan pemahaman kian meruncing maka pertumpahan darah pun bisa saja terjadi.

Saudaraku,berbuat bid'ah tidak akan membuat hati kita menjadi bersih tapi justru membuat hati semakin kotor.Itulah sekelumit bahaya sebuah bid'ah.


Kembali,setiap bid'ah adalah tercela namun perbuatan tercela belum tentu dinamakan bid'ah menurut syari'at,seperti; merokok,merokok adalah sebuah PERBUATAN TERCELA ,tapi apakah merokok itu bid'ah? menurut syari'at merokok BUKAN sebuah bid'ah,karena BUKAN merupakan ritual yang mengharapkan pahala meskipun tidak pernah dicontohkan oleh Rasululloh.

Bid'ah menurut bahasa dan syari'at

Seperti; mobil,pesawat,microphone dan lain sejenisnya,secara BAHASA itu semua bid'ah karena itu sesuatu yang baru 'belum ada pada zaman Rasululloh' dan tentu Rasululloh pun tidak mencontohkannya,tapi apakah semua itu bid'ah menurut SYARI'AT (yang dimaksudkan)? sekali kali BUKAN,karena itu hanya sebuah pendukung,seandainya mereka (mobil,pesawat,dll) tidak ada pun maka tidak akan mengurangi pahala dari ibadah seorang hamba.

Lalu,seperti apa bid'ah menurut syari'at yang dimaksud

Seperti; tahlilan (ritual 7 hari,100 hari,1000 hari kematian),shalat isya' 2x salam,shalat dzuhur 5 rakaat,sujud setelah salam dalam shalat,mengkhususkan baca surat Yaasin pada malam jum'at (yaasinan),qunut terus menerus pada shalat subuh,baca ini baca itu sekian kali tanpa ada dalil yang shahih,puasa ini puasa itu tanpa ada tuntunannya,shalat dengan tidak nafas dan memejamkan mata,membaca ayat kursi sekian kali untuk kekebalan tubuh,penglaris dan lain sebagainya,yang pasti dilakukan tanpa ada dalil yang SAHIH.

Mengapa semua itu bid'ah?

Seandainya itu baik sudah pasti dipraktekkan oleh Rasululloh dan para sahabat,tapi apakah ada dalil yang menjelaskan bahwa Beliau melakukannya? Sedangkan penghalangnya pun tidak ada (seandainya itu baik Rasululloh pasti mampu melakukannya).

Tanya: Al-Qur'an,mengapa pembukuan Al-Qur'an tidak disebut bid'ah? Bukankah itu mengharapkan pahala juga tidak pernah DICONTOHKAN oleh Rasululloh,bukankah seandainya itu baik Beliau juga mampu melakukannya?

Jawab: Dilakukan karena memang ada penghalangnya,apa itu PENGHALANGNYA? Ya,karena Rasululloh sudah wafat dan wahyu sudah tidak lagi turun.Oleh karenanya perlu dibukukannya Al-Qur'an.

Apakah setiap bid'ah menurut syari'at sesat?

Dalam satu kisah diriwayatkan: Sahabat nabi Umar r mengatakan:

Sebaik-baiknya bid'ah [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari 4/250
no.2010]

Ini yang dimaksud adalah shalat tarawih yang dilakukan sepanjang malam bulan ramadhan secara berjama'ah.
Jika bid'ah paling baik adalah hal tersebut,sedang shalat tarawih sendiri dilakukan para sahabat dan Rasullaloh صلى الله عليه وسلم sendiri juga melakukannya,engkau pasti tahu saudaraku bagaimana sesatnya bid'ah selain itu yang bahkan sebuah bid'ah mungkar yang tidak ada contohnya sama sekali dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan para sahabat.

Tahlil bukan bid'ah akhi,tapi tahlil yang memiliki makna mengingat Allah akan menjadi sebuah bid'ah jika itu dilakukan dengan cara pengkhususan untuk waktu tertentu (tahlilan),dibaca sekian kali,dan dilakukan pada tempat yang tidak seharusnya apalagi melibatkan syarat-syarat tertentu seperti harus menanam kepala kerbau,memotong ayam hitam,dan lain sebagainya,maka itu adalah bid'ah.

Salafy=Khawarij?

Apakah karena mereka berjanggut,bercadar,bercelana cingkrang,berusaha fasih membaca Al-Qur'an,berlatih rajin berpuasa,mencoba tidak pernah meninggalkan shalat lantas kita menyebut mereka khawarij?

Rasululloh menyebut dalam hadits tersebut khawarij adalah seorang muslim yang melampaui batas dalam beribadah dan sekali-kali BUKAN mengacu pada seorang muslim yang berusaha menjelaskan mana sunnah mana bid'ah serta istiqomah dalam melaksanakan ibadah dengan benar.

Apakah saat itu Rasululloh menyebutkan 'dari umatku yang bercelana ngatung,bercadar dan berjenggot?'
Banyak hadits shahih yang menjelaskan bahwa Beliau Rasululloh memiliki bulu janggut yang lebat.

JUSTRU saat Beliau melihat seorang muslim yang mencukur jenggotnya (bagi yang berjanggut dan melebihkan kain melebihi mata kaki -isbal) Beliau akan memerintahkan mereka untuk meninggalkannya (jangan mencukur bulu janggut dan jangan isbal).

Hakekat perintah ini adalah kita diuji seberapa besar ketaatan kita kepada Rasululloh - sami'na wa atha'na.Karena Islam ini tentu tidak akan menilai seberapa lebat bulu janggut seorang hamba,namun seberapa taat seorang hamba memenuhi perintah Rabbnya.

Sungguh aneh,kita bisa ridho melihat umat Islam yang musbil (pelaku isbal),perempuan yang tidak berhijab,seorang muslim yang selalu menuntun pada jalan kesesatan NAMUN justru dengki dengan seorang muslim yang mencoba Kaffah dalam agamanya.

Tips wajah putih merona memancarkan aura 'rahmatan lil'alamin'

Memang hitam dan putihnya wajah seseorang bukan mencerminkan seberapa taqwa dia kepada Rabbnya,namun seorang individu muslim yang berusaha untuk istiqomah dan belajar berubah semakin baik,ikhlas,selalu mencoba mengendalikan hawa nafsunya,takut dan taqwa kepada Rabbnya dan mencintai sesama akan membuat aura seorang muslim cantik dan memancarkan sifat-sifat rahmatan lil'alamin.

SALAFI SESAT? sungguh sebuah kata yang harus kita revisi.

[ Baca lebih lanjut.. ]

Perlukah Ibadah? Bukankah Sudah Diatur Rezeki,Jodoh,Ajal dan Bahagia atau Sengsara??

Bismillah - sesungguhnya tidak ada jalan yang mendekatkan diri seorang hamba kepada surga dan menjauhkannya dari neraka kecuali semuanya telah Islam ini jelaskan.
Hanya sampai dimana kita sebagai hamba peka terhadapnya,semangat dalam menuntut ilmu juga berusaha untuk istiqomah didalamnya.

Demikian juga dengan berbagai masalah dalam kehidupan kita sehari-hari,hendaknya kita selalu sandarkan pada nash agar mendapat keberkahan dalam hidup di dunia yang sangat singkat ini.

Beriman kepada Qadha dan Qadar

Banyak dijumpai berbagai problema kehidupan masyarakat kita,yang menggiring pada penyelewengan aqidah,baik itu dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupan rumah tangga.
Beriman kepada qadha dan qadar merupakan salah satu modal hidup bahagia seorang mukmin.

Terbersit dalam pikiran kita 'masih perlukah kita beribadah? bukankah Rezeki,Jodoh,Ajal dan Bahagia atau Sengsara sudah ditetapkan?'
Benar saudaraku,disini aqidah kita dipertanyakan,sudah berimankah kita kepada qadha dan qadar?

Berimankah kita pada adanya Surga dan dahsyatnya api Neraka?
Siapa diantara kita yang menginginkan masuk kedalam Neraka?
Bukankah kita menginginkan Surga?
Sulitkah diri kita istiqomah dalam beribadah?
Begitu mudahkah kita dalam bermaksiat?

Dari pertanyaan diatas tentu kita tahu apa yang SEHARUSNYA kita lakukan sebagai hamba yang menginginkan Surga.

Apakah mungkin seorang hamba masuk kedalam Neraka jika semasa hidupnya kerap beramal shaleh dan menemui ajalnya dalam keadaan khusnul khatimah? tentu tidak saudaraku.Karena janji Allah adalah benar.
Lalu apakah mungkin seorang hamba masuk kedalam Surga jika semasa hidupnya kerap bermaksiat dan menemui ajal dalam keadaan kufur? tentu tidak saudaraku,ya karena janji Allah adalah benar.


Jangan salah mengartikan saudara saudariku,bahwa adalah kita sendiri yang menentukan ahli Surga atau ahli Neraka,sekali kali bukan.
Tugas kita hanya menjalankan apa yang telah Rabb kita perintahkan dan berusaha untuk meninggalkan apa yang telah Allah perintahkan kepada kita untuk meninggalkannya.

Allah tidak menganiaya hamba-hambaNya,manusia akan mendapatkan apa yang telah mereka usahakan.Seandainya pun seorang hamba dalam seumur hidupnya mendapatkan kesengsaraan namun tetap istiqomah sampai ia menemui ajal,tentu Allah akan membalasnya dengan Surga.
Namun sebaliknya,seorang hamba yang dalam seumur hidupnya mendapatkan kebahagiaan namun kufur kepada Allah sampai ia menemui ajal,tentu Allah akan membalasnya dengan Neraka.Bukankah hidup ini adalah sebuah pilihan saudaraku?

Seorang hamba yang telah ditentukan sebagai penghuni Surga,maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang ahli Surga.Dan seorang hamba yang telah ditentukan sebagai penghuni Neraka,maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang ahli Neraka,setiap hamba akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya.Lalu,kita tanyakan pada diri sendiri,jika kita beriman kepada adanya Surga dan Neraka,sudahkah selama ini kita istiqomah menjalankan perbuatan-perbuatan ahli Surga?
Saudaraku,kita bisa mejawabnya sendiri bukan?

Tahapan Kehidupan Manusia


1.BUNYI HADITS:


عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمن عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدِ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيُنْفَخُ فِيْهِ الرُّوْحُ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ : بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا (رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud –semoga Allah meridlainya- beliau berkata:
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menceritakan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur dan harus dipercaya:
Sesungguhnya (fase) penciptaan kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama 40 hari (dalam bentuk) nutfah (sperma),kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal darah kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal daging,kemudian diutuslah Malaikat,ditiupkan ruh dan dicatat 4 hal:rezekinya,ajalnya,amalannya,apakah ia beruntung atau celaka.
Demi Allah Yang Tidak Ada Sesembahan yang Haq Kecuali Dia,sungguh di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) hingga antara dia dengan jannah sejarak satu hasta kemudian ia didahului dengan catatan (taqdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk anNaar (neraka),sehingga masuk ke dalamnya (anNaar).
Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan penduduk anNaar, hingga antara dia dengan anNaar sejarak satu hasta kemudian ia didahului dengan catatan (taqdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk jannah sehingga masuk ke dalamnya (jannah)
(H.R alBukhari dan Muslim).

2.MAKNA SECARA UMUM:

Ibnu Mas’ud menyampaikan suatu hadits yang ia dengar langsung dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tentang khabar ghaib.Karena khabar itu menuntut keimanan yang tinggi,beliau mendahului penyampaiannya dengan mengingatkan bahwa Rasul adalah orang yang jujur sekaligus harus dipercaya seluruh kabarnya.

Manusia mengalami 4 fase pertumbuhan dalam perut ibunya:

40 hari pertama dalam bentuk nutfah (sperma),40 hari kedua dalam bentuk ‘alaqah (segumpal darah),40 hari kedua dalam bentuk daging.

Setelah itu,Malaikat diutus Allah untuk meniup ruhnya dan mencatat 4 hal:

rezeki,ajal,amalan,dan keadaan dia (beruntung atau celaka).
Kemudian Rasul menceritakan adanya keadaan 2 macam orang:

Pertama,seseorang yang hampir seluruh hidupnya diisi dengan amalan penduduk surga (ketaatan),sehingga jaraknya dengan surga sudah satu hasta (ukuran dari siku hingga ujung jari),namun karena catatan taqdir,ia di akhir hayatnya beramal dengan amalan penduduk neraka sehingga masuk ke dalam neraka.

Kedua,seseorang yang hampir seluruh hidupnya diisi dengan amalan penduduk anNarr (Neraka),sehingga jaraknya dengan surga sudah satu hasta (ukuran dari siku hingga ujung jari),namun karena catatan taqdir,ia di akhir hayatnya beramal dengan amalan penduduk jannah sehingga masuk ke dalam surga.

3.PELAJARAN YANG BISA DIAMBIL:

1.Para perawi hadits banyak yang meriwayatkan hadits lafadz haddatsana –mencontoh lafadz yang diucapkan Ibnu Mas’ud dalam hadits ini- untuk menunjukkan bahwa ia hadir dan mendengar langsung dari orang yang menceritakannya.

2. Seluruh berita yang shahih berasal dari Nabi harus diyakini dan dibenarkan meski tidak terjangkau akal karena beliau adalah as-Shoodiqul Mashduuq (yang jujur dan harus dipercaya).

3. Tahapan penciptaan manusia di rahim ibunya:

- 40 hari pertama nutfah
- 40 hari kedua segumpal darah
- 40 hari ketiga segumpal daging

4. Ditiupkan ruh pada janin setelah berusia 3 x 40 hari = 120 hari = 4 bulan.

Setelah 4 bulan inilah berlakulah baginya hukum manusia.
Jika terjadi keguguran janin,maka dilihat keadaan:

-sebelum 120 hari:
tidak perlu dimandikan,dikafani,dan disholatkan.
-setelah 120 hari:
dimandikan,dikafani,dan disholatkan.

Jika janin yang keluar saat keguguran bentuknya sudah seperti manusia, maka berlakulah hukum nifas. Jika tidak, maka hukumnya seperti darah istihadhah (penyakit).
(Penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin).

5. Beriman terhadap Malaikat.Ada Malaikat yang bertugas untuk meniup ruh pada janin dan mencatat 4 hal: rezeki,ajal,amalan,dan keadaannya (beruntung atau celaka).

6. Beriman terhadap catatan taqdir.

Para Ulama menjelaskan bahwa berdasarkan lingkupnya,pencatatan taqdir terbagi menjadi 4:

a) Pencatatan di Lauhul Mahfudzh.

Catatan induk.Berisi catatan taqdir segala sesuatu.Ditulis 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi.Catatan ini tidak ada yang tahu kecuali Allah, dan tidak akan berubah sedikitpun.

b) Pencatatan dalam lingkup umur perorangan.

Ini adalah catatan Malaikat, seperti yang disebutkan dalam hadits ini tentang 4 hal:rezeki,ajal,amalan,dan keadaannya (beruntung atau celaka) terhadap janin yang masih berada di perut ibunya.

c) Pencatatan dalam lingkup tahunan.

Dilakukan setiap Lailatul Qodar,berisi catatan segala sesuatu yang akan terjadi dalam waktu setahun ke depan (hingga Lailatul Qodar berikutnya),disebutkan dalam surat ad-Dukhkhan:3-4.

d) Pencatatan dalam lingkup harian.

Disebutkan dalam surat arRahman ayat 29.
Allah meninggikan derajat suatu kaum atau merendahkannya,membentangkan rezeki atau menyempitkannya,dsb.Hal itu berlangsung tiap hari.


Perubahan catatan taqdir yang masih memungkinkan terjadi pada catatan yang ada di Malaikat,sedangkan yang Lauhul Mahfudzh tidak akan pernah berubah.

1) Akhir kehidupan seseorang akan berujung pada dua hal: beruntung atau celaka.Orang yang beruntung adalah yang masuk ke dalam surga,sebaliknya yang celaka adalah yang masuk ke dalam neraka.Tidak ada keadaan ketiga.
2) Seseorang tidak boleh merasa bangga diri ketika ia banyak beribadah dan sering mengisi hari-harinya dengan ketaatan.Harus diiringi dengan perasaan takut dan khawatir jangan sampai mengalami suu-ul khotimah (akhir kehidupan yang buruk).
3) Seseorang yang sedang terjerumus dalam lumpur dosa tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah,hendaknya ia bersemangat untuk bertaubat dan memperbanyak amal sholih dengan harapan meninggal dalam keadaan husnul khotimah (akhir kehidupan yang baik).
4) Akhir kehidupan sangat menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan seseorang nanti di akhirat.

4.KASIH SAYANG ALLAH:

Sebagai salah satu bentuk kasih sayang Allah,orang-orang yang berubah dari keadaan baik menjadi buruk lebih sedikit atau jarang dibandingkan orang yang berubah dari keadaan buruk menjadi baik (penjelasan Ibnu Daqiiqil Ied).

Penyebab perubahan dari baik menjadi buruk itupun sebenarnya karena ia hanya menampakkan kebaikan di hadapan manusia.Ia tampakkan seakan-akan ia terus bergelut dengan ketaatan dan sudah dekat dengan surga.Padahal hatinya tidak demikian,amalnya penuh dengan riya’ dan kemunafikan[i] .

Abdul Haq berkata:

“Suu-ul Khootimah (akhir kehidupan yang buruk) tidak akan menimpa orang yang istiqomah batinnya dan baik amal perbuatannya…Kebanyakan menimpa orang-orang yang terus menerus dan lancang (tidak mengenal malu) dalam berbuat dosa besar…”

(dinukil oleh alHafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (11/489))


[i]Hal ini diperjelas dengan lafadz hadits lain yang diriwayatkan alBukhari:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Sesungguhnya seseorang beramal dengan amalan penduduk surga sesuai yang nampak pada manusia, padahal ia adalah termasuk penduduk neraka (H.R alBukhari dari Sahl bin Sa’ad as-Saaidi).

sumber:http://salafy.or.id/blog/2012/03/06/hadits-ibnu-masud-tentang-tahapan-kehidupan-manusia/ oleh Ustadz Kharisman dengan sedikit tambahan dari admin.


[ Baca lebih lanjut.. ]